"BUNGA DESA
 

 


Ditulis oleh Sumadi

Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah

 

Pertemuan Pertama dengan Sang Tokoh

Jarang seorang Kepala Daerah membuat sebuah inovasi sosial  menjadi sebuah alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi pada wilayahnya, cenderung seorang  kepala daerah tertarik dengan inovasi  fisik yang mudah terlihat dalam pandangan banyak orang yang menjadi simbol-simbol kemegahan namun rapuh dalam ikatan moral antara pemimpin dan yang dipimpinnya (rakyatnya) hubungan antara pelayan dan yang dilayani. Tulisan ini menggambarkan seorang sosok Kepala Daerah Perempuan di Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah, yang saya anggap unik dalam inovasi sosialnya didalam upaya optimalisasi pelayan publik kepada masyarakat desa di Kabupaten Poso.

Pertama kali bertemu di ruang pribadinya, saya selaku Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kabupaten Poso dengan Bupati Ibu dr, Verna G.M Inkiriwang di tahun 2021 saat beliau baru saja dilantik menjadi Bupati Poso kala itu. Dengan ramahnya beliau menerima saya dan langsung menyapa dengan senyumnya yang masih tersimpan sebagai mantan Finalis Putri Indonesia tahun 2009 kabar berita dari  masyarakat Poso, kesan pertama waktu bertemu adalah sangat ramah, dan cantik itu sudah pasti. Dengan mengenakan baju seragam putih lengkap dengan lambang-lambangnya membuat saya sedikit segan sekaligus grogi. Namun itu berlalu saat Ibu Bupati mempersilahkan saya duduk pas tepat di depan meja kerjanya, dan mengajak untuk duduk di ruang penerimaan tamu kursi sofanya.

Sebelum saya memperkenalkan diri, beliau bertanya…Apa yang saya bisa bantu Pak…? Dan di sambung dengan bahasa yang cukup tegas, tolong pak jangan banyak-banyak ya menyampaikan masalahnya tapi juga harus ada diberikan saran dan solusinya “kata Bu Bupati kala itu.

Setelah saya memperkenalkan diri, serta maksud tujuan kedatangan saya, saya langsung menceritakan peran TPP serta  keberadaan TPP khususnya TA yang kurang harmonis dengan pihak Pemda khususnya dengan Kadis PMD kala itu. Namun pertemuan ini memberikan solusi sekaligus harapan kepada TPP Kabupaten Poso akan di optimalkan perannya dalam melakukan pendampingan desa khususnya penggunaan Dana Desa secara baik dan benar. Ibu Bupati secara tegas megatakan.” Seharusnya kita berterima kasih kepada Kemendes atau Pemerintah Pusat sudah diberikan pendamping dan dibayar oleh pemerintah Pusat, artinya Pemda Poso tidak mengeluarkan biaya untuk mereka “. Okelah Pak mulai saat ini kita akan perbaiki bersama hubungan antara TPP dan Pemda, saya sangat berterimakasih bisa bertemu sekaligus bisa mencari jalan keluar “kata Bu Buapati. Selanjutnya dengan penuh harapan Ibu Bupati memberikan gambaran secara programatik terkait Visi dan Misi Pemda Poso dibawah kendali beliau. Banayk hal yang saya bisa petik, dan menjadi catatan-catatan dalam upaya penyelarasan antara RPJMD kabupaten dengan RPJMDes sehingga Pembangunan desa dapat tersingkronisasi dengan baik.

Pertemuan yang saya tidak teragendakan sebelumnya, awalnya hanya silaturimi namun pertemuan ini menjadi sangat berarti dan penuh makna. Karena secara jelas dan gamblang saya dapat mendengar langsung terkait visi dan misi bupati Kapubaten Poso. Dengan pertemuan ini juga ada kesan keterbukaan, dan kesungguhan dalam membangun Kabupaten Poso yang lebih Maju dan terdepan di Propinsi Sulawesi Tengah. Dalam benak saya terlintas beliau adalah sosok yang tangguh serta paham dengan proses politik penganggaran, Tentu itu saya pahami, karena beliau adalah mantan Anggota DPR RI selama 2 prereode mewakili daerah pemilihan Sulawesi Tengah. Pemahaman tentang hal itu serta memiliki pengalaman dalam mengambil keputusan – keputusan penting yang berpihak kepada kepentingan Masyarakat tidaklah diragukan. Dalm diskusi yang komunikatif ini membawa saya kedalam alur diskusi yang menuju pada satu aras yaitu kemanjuan dan kemandirian desa semakin mudah. Tanpa rasa Lelah dan jenu diskusi awal ini ternyata banyak hal yang bisa disatukan dalam sebuah tujuan bersama yang di sebut dengan Desa.

Tiba-tiba Ibu Bupati berdiri dari tempat duduknya, dan mengambil beberapa kertas catatan dan satu persatu dijelaskan bahwa  ntuk mewujudkan visi yang ada, maka diwujudkan dlaam  misi yang akan diemban adalah  sesuatu yang realistis yang terukur waktu dan anggaran antara lain : “ kata Bu Bupati. Dan dilanjutkan dengan menjelaskan satu

1.      Mewujudkan Poso Yang Aman, Damai dan Sejahtera.

2.      Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi dan Peningkatan Kualitas  Infrastruktur;

3.      Mewujudkan Masyarakat dan Mutu Produk Yang Berdaya Saing;

4.      Mewujudkan Kualitas Lingkungan Hidup Yang Berkelanjutan;

5.      Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan Daerah Yang Baik,

6.      Penegakkan Hukum dan HAM;

7.      Mewujudkan Kualitas Sumberdaya Manusia.

Satu demi satu saya tulis, agar tidak lupa sebagai catatan penting yang bisa menjadi bekal dalam pertemuan di level desa ataupun dengan teman -teman pendamping desa di Kabupaten Poso agar semakin baik. “kataku dalam hati.


        Sudah 3 jam lebih pertemuan ini,karena saya merasa tidak enak, terlihat pada kamera CCTV yang terpasang diruang tunggu  banyak sekali tamu yang menunggu, maka saya minta pamit seraya meminta untuk bisa diagendakan pertemuan dengan seluruh TPP Kabupaten Poso dengan Ibu Bupati, dan dijawab dengan tegas, baik Pak..secepatnya saya akan agendakan “kata Bu Bupati . Saya berdiri dan meminta untuk foto bersama sebagai bukti dalam DRP bahwa saya telah melakukan Koordinasi pendampingan dengan Bupati Poso, untuk optimalisasi peran pendampingan yang bersinergis.

Kalimat “ Pak bantu saya ya… khususnya untuk Poso menuju  desa Maju, serta program andalan saya” Bunga Desa”. Baik Bu jawabku .

Namun saya terus bertanya  “ Bunga Desa” program apakah itu..? Jangan -jangan Ibu Bupati mengajak masyarakat Poso untuk menanam bunga di desa agar indah dan asri, atau ingin menjadikan desa sebagai sentral penanaman bunga…? Terus bertanya dalam pikiran saya, tapi sudahlah, ibu Bupati sudah berjanji bahwa dalam pertemuan nanti akan dijelaskan apa itu Bunga Desa serta program program andalan lainnya. Dan ada dalam catatan program-program andalan tersebut adalah  membangun dari desa,  penyelenggran kesehatan gratis,penyelanggaran pendidikan gratis, mempersiapkan 500 UMKM bangkit mandiri, bantuan rumah ibadah, imam, pendeta, mangku, lembaga adat, lansia dan santunan duka serta penyedian wifi gratis. Namun dari sekian banyak yang ada dalam catatan saya dari pembicaraan tadi ada satu yang saya belum dapat artikan yaitu “ Bunga Desa”.

 

 

 

 

Filosofi “ Bunga Desa” Dalam Arti Kata Dan Tindakan


         

 
Akhirnya tibalah saatnya, pertemuan antara seluruh TPP Kabupaten Poso (TA, PD dan PLD) dengan Ibu Bupati Poso. Dalam pertemuan ini juga di hadiri para pejabat di lingkup PMD kabupaten Poso. Dalam pertemuan kali ini bahwa panggung dan ruang Koordinasi, Kemitraan serta konsultatif dapat terjadi dalam dua arah yang komunikatif, sehingga tema dari pertemuan kali ini adalah “ Melalui Rapat Koordinasi P3MD Kabupaten Poso  kita bangun Sinergitas untuk kemajuan Desa “. Pada kesempatan inilah terjawab apa itu “Bunga Desa” yang menjadi pertanyaan dalam pikiran saya. Secara filosofis, Bunga Desa diartikan sebagai singkatan dari Bu artinya Bupati, Nga artinya Ngantor,  De artinya Di Desa, dan Sa artinya Satu Hari. Secara simbul kebetulan Bupati sosok perempuan maka kata Bunga identik dengan kemesraan dan cinta kasih. Inovasi sosial ini merupakan upaya optimalisasi pelayanan public kemasyarakat dengan teori terbalik antara pelayan dan dilayani (pelayan mendatang tapi bukan di datangi). Konsep ini Bupati membawa seluruh SKPD untuk hadir di desa dengan stafnya dan berkantor selama sehari khususnya di desa yang berdekatan dalam suatu wilayah kecamatan. Dengan konsep mendekatkan pelayanan ini, tentunya akan memangkas waktu, biaya kepada masyarakat desa yang akan mendapatkan pelayanan publik seperti, pembuatan KTP gratis dan cepat, pembuatan Kartu Keluarga, Akte Kelahiran, serta pelayanan public lainnya. Selain optimalisasi terhadap pelayan tersebut, bupati juga ingin membangun sebuah ikatan moral yang kuat dengan masyarakatnya,  sehingga akan terus terjalin secara humanis untuk mewujudkan Poso Harmoni sebagai pilar dalam menuju visi Bupati : “ Poso Menjadi Kabupaten  Maju, Tangguh, dan Terdepan di Sulawesi Tengah “.

 Memaknai kata Maju, Tangguh dan Terdepan sebagai kata kunci pokok Visi: pembangunan Poso ditujukan untuk meningkatkan dan Memajukan Pembangunan dengan cara Membangun Bersama, Sejahtera Bersama sebagai jargon utama pembangunan. Dimana seluruh pembangunan  dikostruksikan untuk mewujudkan masyarakat Kabupaten Poso yang maju  tangguh dan terdepan. Dimana hasil pembangunan harus dapat dinikmati  dan dirasakan oleh segenap masyarakat yang direfleksikan dengan membangun bersama ,sejahtera bersama menuju Poso Kabupaten maju, tangguh dan terdepan. Atas dasar kebersamaan serta pendekatan pelayanan inilah Gerakan Inovasi Sosial Bunga Desa dicetuskan.Selain itu gerakan inovasi sosial dilatarbelakangi dengan kondisi sosial masyarakat Poso secara geologi politik dan geografis sebagai jantung Pulau Sulawesi Tengah dengan mengacu pada Pilar misi Bupati ke 2 yaitu Poso Kuat dan Harmoni. Karena tanpa adanya ikatan moral yang kuat antara pemimpin dan rakyat visi besar Bupati akan sulit tercapai, hubungan harmonis antar warga sangat diperlukan dalam membangun tanah Poso, tanpa peran serta masyarakat yang kuat sama halnya menempatkan Masyarakat sebagai obyek dalam pembangunan di Tanah Poso Maroso.

 

Menjadi Pendengar Yang Baik.

Seorang pemimpin yang mau menjadi pendengar yang baik khususnya suara dari rakyat biasa jarang kita temui . Namun tidak dengan Ibu Bupati Kabupaten Poso, beberapa kali dalam forum pertemuan di tengah - tengah masyarakat, selalu melakukan proses dialogis dua arah antara peserta dan ibu Bupati, namun beliau selalu minta peryataan yang singkat padat dan jelas namun tidak anti kritik. termasuk saran – saran dari para pendamping desa bila ada rapat koordinasi yang dilaksanakan oleh Pemda.  Sebagai contoh dalam rapat Paripurna di DPRD yang membahas Rancangan Perda RPJMD bersama TPP serta OPD terkait  khususnya Tenaga Ahli P3MD Kabupaten Poso diberikan ruang untuk meyampaikan pendapat serta capaian melalui alat ukur IDM (indeks desa membangun). Dalam forum itu TPP menjelaskan apa itu IDM serta apa saja indicator serta komposit dalam penilaian status desa terhadap pencapaian Pembangunan terkait pelayanan public desa kepada masyarakatnya.

Dari forum inilah, IDM dijadikan dasar restra oleh seluruh SKPD Kabupaten Poso yang didasakan pada hasil rekomendasi IDM setiap tahunnya, khususnya pada kewenangan Kabupaten untuk membangun desa. Berangkat dari status desa pada tahun 2022 yang masih ada desa yang berstatus Tertinggal sebanyak 21 desa, Berkembang 100 desa dan Maju sebanyak 21 desa, dapat berubah dengan sangat nyata hingga pada tahun 2023 ini Kabupaten Poso tidak ada lagi desa bersatus tertinggal bahkan mampu melakukan perubahan sebanyak 20 desa berstatus mandiri, 43 desa maju dan 79 desa berkembang. Dan pada setiap moment pertemuan Bunga Desa ibu Bupati mengingatkan kepada desa agar terus ditingkatkan pelayanan publik kepada masyarakat desa pada kewenangan desa, serta saran dan rekomendasi kewenangan Kabupaten diselaraskan dalam Pembangunan desa dalam forum Musrenbang kecamatan dan kabupaten. Proses penyelarasan inilah sebagai bentuk atas kebutuhan masyarakat sekaligus menujukan bahwa beliau ingin menjadi seorang pemimpin yang gemar menjadi pendengar yang baik selanjutnya  dibuktikan dengan karya nyata.


Ibu Bupati dalam kegiatan Bunga Desa selalu mengingatkan kepada desa bahwamenyususn RKPDes harus didasarkan pada kebutuhan yang multi efek, sehingga mampu memberikan solusi dan jawaban dari masalah-masalah yang dihadapi oleh Masyarakat desa.


Terselip Karakter Desa Inklusif dalam Bunga Desa

Ada hal yang sangat menarik pada inovasi sosial dalam “Bunga Desa” ini, dimana secara cerdas Bupati Poso telah meletakan karakter inklusi yang didalamnya terpetik aras dan prinsip-prinsip tentang sebuah konsep Inklusi. Antara lain prinsip partisipatif bermakna bahwa merupakan hak masyarakat untuk terlibat dalam seluruh proses pembangunan tidak hanya ditempatkan sebagai objet pembangunan, Selain itu juga ada prinsip keberpihakan bermakna memberikan dukungan dalam rangka partispasi dalam proses pembangunan di Kabupaten Poso untuk menjadi Poso Maju dan Tangguh.

Prinsip lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah keberlanjutan bermakna Pembangunan desa yang merupakan ujung tombak pembangunan dilaksanakan dalam dimensi pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan dan pelestarian, daya dukung lingkungan hidup bertata kelola secara seimbang dan berkelanjutan. Dan yang sungguh menarik Gerakan Bunga Desa sebagai upaya Pembangunan yang berkeadilan bagi masyarakat di Kabupaten Poso,  dengan mengedepankan sikap persamaan hak dan non diskriminasi seluruh anggota masyarakat sebagai subjek yang memiliki kepentingan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa serta pembinaan kemasyarakat desa, dengan mendekatkan pelayanan publik bagi masyarakat desa khususnya pada wilayah-wilayah tersulit di Kabupaten Poso.

Dengan bahasa sederhana dari dua kata “BUNGA dan DESA”, telah memberikan karakter yang kuat tentang konsep pembangunan desa inklusif. Inovasi Soisal ini selanjutnya menjadi sebuah gebrakan Pemerintah Kabupaten Poso untuk  menciptakan suasana hormoni antar warga, pemerintah setempat lewat desa, sehingga Poso semakin Harmoni dalam tataran struktur sosial di desa sebagai ujung tombak dalam menuju Poso yang lebih tangguh.

Tulisan ini menggambarkan karakter khusus yang melekat pada  sosok seorang bupati yang mampu memberikan keteladan dalam kedekatan, kerendahan hati  dengan rakyatnya dalam sebuah keragaman etnik, yang dikemas dengan sebuah gerakan sosial yang di sebut  Inovasi Sosial “ Program Bunga Desa” yang diartikan Bupati Ngantor Di Desa Sehari dalam rangka mendekatkan pelayanan kepada masyarakat  kabupaten Poso yang semakin  optimal.

 

S E K I A N

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fasilitasi Rembug Stunting Desa Padalembara Kec Poso Pesisir Selatan.

Terkenang Lahirnya Undang Undang Desa